Benarkah masa-masa terindah seseorang ada di sekolah? Dan ternyata moment sekolah yang paling indah adalah di tingkat SMA?. Barangkali logikanya anak usia SD secara sosial belum mengerti benar tentang esensi pertemanan, dan usia setelahnya (saat SMP) masih lebih dekat ke dunia anak-anak daripada ke arah dunia orang dewasa. Masa SMA adalah masa transisi dari usia remaja menuju kedewasaan awal, sehingga logika orang dewasa bagi anak usia SMA sudah masuk dalam frame berpikirnya.
Saat yang sama usia SMA ini belum punya beban dan tekanan sebagaimana layaknya orang dewasa. Jadi wajar dalam rentang usia SMA yang ada adalah kesenangan-kesenangan tanpa tekanan. Dan usia transisi ini juga merupakan usia yang rawan sesungghnya, karena walau belum dewasa (secara kematangan psikologis maupun biologis) tapi seluruh fungsi dan peranan yang ada tidak jauh berbeda dengan orang yang berusia dewasa.
Saat yang sama usia SMA ini belum punya beban dan tekanan sebagaimana layaknya orang dewasa. Jadi wajar dalam rentang usia SMA yang ada adalah kesenangan-kesenangan tanpa tekanan. Dan usia transisi ini juga merupakan usia yang rawan sesungghnya, karena walau belum dewasa (secara kematangan psikologis maupun biologis) tapi seluruh fungsi dan peranan yang ada tidak jauh berbeda dengan orang yang berusia dewasa.
Sebenarnya apa saja yang bisa membuat masa-masa SMA itu berkesan? kenapa begitu banyak orang ingin kembali ke masa SMA-nya? padahal bisa jadi waktu SMA-nya, dia sendiri sering mengeluh karena jenuh dan bosan jadi anak SMA.Dari sejumlah pembicaraan di beberapa grup atau komunitas sosial baik yang maya (on line) maupun yang real (offline) tentang masa SMA ini, ternyata di ketahui ada beberapa faktor kenapa masa-masa SMA di sebut masa-masa paling indah di kalangan semua orang :
1. Sesuatu yang kita dapatkan sewaktu SMA, tidak didapatkan pada saat kuliah apalagi setelahnya
Banyak pengalaman positif (juga negatif) berasal atau di mulai saat usia SMA. Usia ini berbeda dengan usia SMP, di mana saat usia SMP, yang dilakukan seseorang ketika itu lebih pada solidaritas teman atau akibat dari tekanan sosial lingkungan pergaulan. Masa SMA, pilihan yang dilakukan seseorang sudah mulai lebih independen dan mulai dipenuhi unsur-unsur rasional. Keinginan untuk diakui sebagai orang dewasa juga mulai menggoda. Maka wajar di usia SMA, kebutuhan untuk memiliki “teman spesial” demikian besar. Apalagi ini dirasakan secara mayoritas, sehingga usia SMA ini usia di mana secara massal terjadi “perlombaan” mendapatkan teman khusus tadi. Dan tentu saja, “pertemanan” ini sendiri lebih pada pemenuhan kebutuhan sosial daripada yang lainnya. Dengan mudah sekali orang berganti teman khusus dan sebaliknya tak terlalu punya banyak beban bila pada akhirnya ditinggalkan atau meninggalkan teman mereka. Wajar saja rasa bosan, jenuh dan ingin mencoba sebanyak mungkin teman lainnya demikian besar, saat yang sama ini juga dialami oleh lawan jenis mereka, jadilah kondisi ini seakan menjadi budaya yang melingkupi usia anak-anak SMA. Terlepas dari baik dan buruknya, jelas budaya ini tidak bisa lagi dilakukan di luar masa SMA. Karena pergaulan pasca SMA lebih berorientasi pada pergaulan yang bukan bersifat sosial semata. Saat kuliah (bila dia kuliah) atau kerja, orang lebih hati-hati dalam bergaul, karena sudah menyangkut tanggungjawab dan sejumlah prasyarat lain yang lebih serius yang akan membarengi hubungan yang terjalin.
2. Kebersamaan
Ikatan komunal usia SMA juga termasuk yang paling kuat di banding sebelum atau setelah usia SMA. Usia ini lagi-lagi adalah usia penemuan jatidiri yang mulai ditapaki, orang sudah mulai meninggalkan masa anak-anak dan remaja. Saat yang sama, ia sesungguhnya cukup cemas dengan masa depannya. Jadilah di usia ini sifat komunal tumbuh kuat sebagai sebuah jalan mengurangi rasa cemas. Maka dari itu, acara-acara jalan-jalan bareng, nongkrong bareng, bolos bareng sampai di setrap (di hukum) bareng merupakan sesuatu yang dinikmati anak usia SMA. Tokhmereka sadar, sudah mulai ada konsekuensi yang harus di terima yang berbeda dengan usia sebelumnya. Misalnya saat memilih jurusan, ketika ia memilih eksakta (fisika dan biologi pada jaman dahulu) tentu saja ia menyadari akan seperti apa masa depan mereka kelak dengan pilihan ini. Dan begitu mereka merasa berkomunitas (sesuaijurusan-nya masng-masing), maka dengan sendirinya mereka harus beraktualisasi dalam peer group mereka ini. Perasaan satu nasib, satu pilihan (walaupun bisa jadi awalnya terpaksa) atau satu entitas menyatukan dan membuat kohesivitas pertemanan menjadi demikian erat. Kadang secara ekstrem, bila menyangkut kelompok atau komunitas mereka, persoalan salah dan benar bisa terabaikan. Karena dibalik kesiapannya menuju proses kedewasaan, ia masih diliputi rasa cemas secara personal. Ia membutuhkan teman dan juga komunitas yang sedikit banyak bisa memberikan rasa aman.
Selanjutnya liat blog berikut ya😊
Selanjutnya liat blog berikut ya😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar